Penjelasan Syarat dan Rukun Dua Khutbah Jumat

Dalam melaksanakan sholat jumat seminggu sekali, sobat islamiy pasti mendengar dengan khusyuk khutbah yang disampaikan. Tahu nggak sih, ternyata dibalik khutbah yang syarat akan pesan-pesan keagamaan itu, ternyata sang khotib (orang yang menyampaikan khutbah) harus memenuhi syarat dan rukun khutbah.

Syarat dan rukun khutbah harus dipenuhi dalam proses pelaksanaan sholat jum’at. Tepatnya sebelum melaksanakan sholat jumat, karena jika syarat dan rukunnya tidak sah, maka tidak sah pula khutbah yang dilakukan.

Tentunya tanggung jawab seorang khotib tidaklah mudah. Karena jika khutbah yang ia sampaikan tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Maka tidak sah pula sholat jumatnya berikut semua orang yang ikut dalam jamaah sholat jumat tersebut.

Yuk kita pelajari bersama syarat dan rukun khutbah jumat, agar kepahaman kita semakin luas dan mendalam tentang agama yang kita peluk sampai saat ini, yaitu agama islam.

Syarat Sah Khutbah Jumat

Khutbah Jumat
konsultasisyariah.com
  1. Laki-laki
  2. Suci dari hadats kecil dan besar. Jika mengalami hadats dipertengahan khutbah, maka wajib wudhu’ dan mengulangi khutbah dari awal.
  3. Suci dari najis pada pakaian yang dikenakan, badan dan tempat khutbah. maksudnya pakaian, badan serta tempat yang tersentuh khotib harus suci dari najis.
  4. Menutup aurat. jika aurat terbuka hingga melewati waktu yang cukup untuk segera menutupnya dan dibiarkan, maka khutbahnya batal dan wajib mengulang dari awal. Kecuali terbukanya aurat pada saat selain rukun khutbah, maka tidak masalah.
  5. Berdiri bagi yang mampu. jika tidak mampu menyampaikan khutbah dengan berdiri, maka boleh sambil duduk. jika tak mampu duduk, maka dengan tidur miring. Namun yang lebih utama atau afdhol adalah mencari ganti untuk menyampaikan khutbah.
  6. Duduk diantara dua khutbah dengan kadar waktu melebihi thuma’ninah (bacaan subhaanalloh) dalam sholat. Yang lebih utama adalah sampai kadar waktu membaca surat Al-Ikhlas. Jika tidak duduk diantara keduanya, maka kedua khutbahnya dianggap satu khutbah.
  7. Disampaikan secara terus-menerus antara dua khutbah dengan sebatas keumuman. Sebagian ulama memberikan batasan pemisahan maksimal dengan kadar waktu melakukan sholat dua rokaat yang tidak panjang. Jika melebihi batas tersebut, maka wajib mengulangi khutbah dari awal.
  8. Begitu pula dilakukan secara terus-menerus antara dua khutbah dan sholat jum’at dengan batasan serupa.
  9. Khatib bisa memberi pendengaran. maksudnya khatib menyampaikan rukun dua khutbah dengan suara yang bisa didengar oleh empat puluh laki-laki yang bisa mengesahkan sholat jumat.
  10. Kedua khutbah harus terdengar oleh empat puluh orang. Yang dimaksud adalah jamaah jumat mendengar kedua khutbah secara pasti menurut imam An-Nawawi, imam Rafi’i, dan Ibnu Hajar.
  11. Rukun kedua khutbah harus disampaikan dengan bahasa arab. Hal ini jika disampaikan pada orang-orang yang bisa bahasa arab. Jika tidak, boleh disampaikan dengan bahasa apapun, dengan syarat bisa dipahami oleh jamaah. Namun wajib bagi mereka tetap belajar bahasa arab, jika tidak, maka berdosa.
  12. Seluruh rukun khutbah dilaksanakan dalam waktu sholat dhuhur. Jika rukun pertama yaitu bacaan hamdalah dilakukan sebelum masuk waktu sholat dhuhur, maka hukumnya tidak sah.

Rukun Khutbah Jumat

  1. Membaca hamdalah pada kedua khutbah. Maka wajib mengucapkan pujian kepada Alloh Swt seperti mengucap alhamdu lillah.
  2. membaca sholawat untuk baginda Nabi Muhammad Saw pada kedua khutbah dengan bentuk sholawat apapun.
  3. Wasiat taqwa pada kedua khutbah. Taqwa adalah mengikuti segala perintah dan menjauhi segala larangan. Maka wasiat harus mengandung dorongan untuk taat dan mencegah dari maksiat. Tidak cukup hanya dengan menakut-nakuti dari duniawi.
  4. Membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu khutbah. Yang lebih utama adalah membacanya pada khutbah yang pertama, agar seimbang antara dua khutbah. Kemudian disyaratkan ayat yang dibaca haruslah ayat yang memahamkan dan minimal sempurna satu ayat.
  5. Membaca doa untuk kaum mukminin pada khutbah kedua. Syarat doa yang dipanjatkan harus bernilai akhirat, tidak cukup yang hanya bernilai duniawi. Tidak menjadi masalah jika seandainya doa dikhususkan bagi orang-orang yang mendengarkan saja. Disamping itu sunnah mendoakan para pemimpin muslim. Jika khawatir akan terjadi fitnah, maka hukumnya menjadi wajib.
  6.  Tidak memperpanjang khutbah yang beresiko memutus kesinambungan khutbah.

Apabila setelah selesai khutbah merasa ragu tentang meninggalkan rukunnya, maka tidak berpengaruh pada hukum sah khutbah. Sebagaimana tidak adanya pengaruh jika setelah sholat atau wudhu’ merasa ragu meninggalkan fardhunya.

Kesunnahan Khusus bagi Khatib dan Imam Jumat

 

  1. Melaksanakan khutbah di atas mimbar atau tempat yang lebih tinggi dari pada jamaah.
  2. Mengucapkan salam ketika hendak masuk masjid dan naik mimbar.
  3. Menghadap kearah para jamaah dan mengucapkan salam pada mereka setelah naik mimbar.
  4. Duduk ketika adzan dikumandangkan.
  5. Segera menyampaikan khutbah ketika adzan selesai.
  6. Membaca rukun-rukun khutbah dengan tertib.
  7. Menyampaikan khutbah dengan fasih, dapat dipahami dan ringkas.
  8. Tidak menoleh kekanan dan kekiri saat khutbah.
  9. Memegang pedang, tongkat atau sejenisnya dengan tangan kiri.
  10. Berpegangan pada mimbar dengan tangan kanan.
  11. Duduk diantara dua khutbah selama waktu yang cukup untuk membaca surat Al-ikhlas.
  12. Berdiri disebelah kanan jika mimbarnya lebar.
  13. Mengakhiri khutbah kedua dengan ucapan:

    أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ

    “Aku meminta ampun kepada Alloh untuk diriku dan untuk kalian”.

  14. Tidak memberi isyarat dengan tangan tanpa ada kebutuhan. Jika ada kebutuhan, maka memberi isyarat dengan jari telunjuk.
  15. Tidak menggedor tangga mimbar dengan kaki atau tongkatnya.
  16. Tidak tergesa-gesa pada khutbah kedua.
  17. Membaca surat surat “ق” setelah membaca ayat.
  18. Muadzin langsung menyegerakan iqomat setelah khotib selesai menyampaikan khutbah kedua.
  19. Imam segera sholat setelah selesai khutbah.
  20. Saat sholat, membaca surat Al-Jum’at, dan Al-Munafikun, atau surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dengan suara keras.

Reverensi:

  • kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.
  • kitab Fathul Mu’in, fasl tentang sholat jum’at, Karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannaniy.
  • Kitab I’anatuth tholibin, juz 1, karya Syeikh Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyati, cetakan haramain / maktabah futuhiyyah.

BACA JUGA: Bacaan Sholat Lengkap

 

Tinggalkan komentar