Sejarah Singkat Madzhab Syafii

Sejarah Singkat Madzhab Syafii – Tahukah kalian kalau madzhab syafii tidak begitu saja tercipta dan diakui keberadaannya serta diikuti mayoritas umat muslim. Madzhab syafii bisa sampai sebesar sekarang ini setelah melalui tahapan-tahapan yang sangat panjang dari satu masa ke masa.

Di indonesia sendiri madzhab syafii telah dikenal luas dan menjadi madzhab terbesar serta mendominasi aliran umat muslim sampai saat ini. Dalam artikel ini kita akan membahas sejarah singkat perjalanan madzhab syafii dan akan kita coba paparkan dari tahapan-tahapan perkembangannya dari masa ke masa.

Sejarah Madzhab Syafii

Secara singkat sejarah perjalanan Madzhab Syafi’I ada lima tahapan. Berikut merupakan sedikit ulasan kelima tahapan tersebut.

Tahap Pertama: Pendiri Pondasi Madzhab

Tahapan yang pertama adalah tahapan pendiri pondasi madzhab.Tentu saja, adanya sebuah aliran madzhab memang harus dipertanyakan siapakah pendiri awalnya. Bukan karena alasan apapun, pertanyaan ini berkaitan erat dengan kredibilitas madzhab itu sendiri kedepannya.

Tahapan ini berakhir dengan wafatnya imam Syafi’i Ra. Beliau meninggalkan kitab al-Um dan lainnya untuk kita semua. Kitab al-Umm adalah kitab induk yang menjadi acuan ulama’-ulama’ madzhab syafii dalam berijtihad menentukan suatu hukum.

Tahapan kedua: Periwayatan

Tahapan kedua dari sejarah singkat madzhab syafii adalah periwayatan. Hal ini dilakukan oleh para murid imam Syafi’i dan sahabat-sahabat beliau dengen menyebar luaskan ajaran madzhab. Diantara kitab mereka yang paling terkenal adalah Mukhtashar, karya al-Muzani.

Tahapan ketiga: Pembukuan dan Pengembangan

Tahapan ketiga dari sejarah singkat madzhab syafii adalah pembukuan furu’iyah madzhab dan pengembangan permasalahan-permasalahannya. Tahapan ini nampak di saat munculnya dua metode, metode ulama’ Iraq dan metode ulama Khurasan.

1. Metode ulama’ Iraq yang dipelopori asy-Syaikh Abu Hamidal-Isfiraini, dan diikuti al-Mawardi, Abu Thayyib ath-Thabari, al-Bandaniji, al-Mahamili, Sulaim ar-Razi dan yang lainnya.

2. Metode ulama Khurasan dipelopori al-Qaffal ash-Shagir Abu Bakar al-Marwazi. Dan diikuti Abu Muhammad al-Juwainial-Furani, al-Qadli Husain, Abu Ali as-Sinji, al-Mas’udi dan yang lain.

Tahapan keempat: Penelitian

Tahapan keempat dari sejarah singkat madzhab syafii adalah penelitian, hal ini dilakukan oleh dua guru besar madzhab asy-Syafi’i, yaitu ar-Rafi’i dan an-Nawawi yang tertuang di dalam kitab keduanya.

Diantara kitab yang terpenting adalah al-Muharrar, asy-Syarh al-Kabir dan as-Shagir keduanya mengembangkan penjelasan (syark) kitab al-Wajiz, karya al-Ghazali, ketiganya adalah karya ar-Rafi’i.

Kitab al-Minhaj, al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab asy-Syairozi dan Raudlatu ath-Thalibin, ketiganya karya an-Nawawi. Kedua imam ini meneliti permasalahan-permasalahan dan dalil-dalilnya serta mentarjih  (mengunggulkan) diantara riwayat pendapat-pendapat didalam madzhab asy-Syafi’i.

Tahapan kelima: Penetapan

Tahapan kelima dari sejarah singkat madzhab syafii adalah penetepan, tahapan ini Nampak atas usaha dua pakar fiqih terkemuka, yaitu Ibn Hajar al-Haitami di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj bi Syarh Minhaj, dan asy-Syamsy ar-Ramli di dalam kitabnya Nihayatul MuhtajIla Syarhi al-Minhaj.

Keduanya melakukan penelitian pada pendapat-pendapat dan riwayat-riwayat dalam Madzhab asy-Syafi’i yang tidak disinggung oleh an-Nawawi dan ar-Rafi’i, dan meneruskan sisa-sisa dari furu’iyyah madzhab, serta meneliti beberapa permasalahan pada bab-bab yang berbeda.

Ketika penetapan madzhab asy-Syafi’i dirasa sempurna dengan upaya an-Nawawi dan ar-Rafi’i, serta sisa-sisanya diseleseikan oleh ibn Hajar dan ar-Ramli, maka ulama generasi selanjutnya merasa cukup dengan berpedoman pada kitab keempat imam di atas saat memberikan fatwa.

Mereka menilai bahwa pendapat yang disepakati oleh an-Nawawi dan ar-Rafi’I adalah pendapat yang mu’tamad (kuat). Dan jika adaperselisihan diantara keduanya, yang diunggulkan adalah pendapat an-Nawawi, namun pendapat keduanya tetap bisa digunakan untuk fatwa.

Sedangkan permasalahan-permasalahan yang disinggung oleh ulama sebelum Ibn Hajar dan ar-Ramli dan disepakati oleh keduanya, statusnya adalah mu’tamad. Namun, jika keduanya berselisih, ulama Hijaz dan Hadramaut lebih mengunggulkan Ibn Hajar, sedangkan ulama Iran dan Mesir lebih mengunggulkan ar-Ramli.

Adapun pendapat ulama-ulama penyusun kitab-kitab yang sering diriwayatkan, semuanya dapat diamalkan dan dibuat pedoman berfatwa, kecuali yang telah disepakati bahwa pendapat tersebut keliru, lupa, atau lemah. Dan semua itu tidak dapat diketahui kecuali oleh orang yang belajar kepada guru-guru fan ini.

Demikianlah ulasan sejarah singkat madzhab syafii. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian dan dapat menginspirasi generasi muda untuk meningkatkan iman dan taqwa melalui madzhab kita semua.

Dikutip dari pembukaan kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.

BACA JUGA:

Tinggalkan komentar