Hukum Syari’at Islam

Hukum Syari’at Islam – Hukum syariat terbagi menjadi dua, hukum taklifi dan hukum wadh’i. Hukum syar’i taklifi adalah hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan perbuatan orang-orang mukallaf. at-Taklifi ini terbagi menjadi lima, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh imam ibn Ruslan dalam karyanya yang penuh barakah, ash-Shafwatu az-Zubad: “Hukum-hukum syara’nya Allah terbagi menjadi tujuh”

Penjelasan Hukum Syari’at Islam Taklifi

1. Fardhu

Fardhu secara bahasa mempunyai arti bagian pasti. Sedangkan secara syara’ adalah perbuatan yang dituntut oleh syariat dengan tuntutan yang mengikat.

Hukum fardhu adalah mendapatkan pahala bagi yang melaksanakan dan akan disiksa bagi yang meninggalkan. Sinonim fardhu ada lima, yaitu maktub, wajib, rukun, lazim dan muhattam.

2. Sunnah

Sunnah secara bahasa mempunyai arti jalan. Sedangkan secara syara’ adalah pekerjaan yang dituntut oleh syariat dengan tuntutan yang tidak mengikat. Hukum sunnah adalah mendapatkan pahala bagi orang yang melaksanakan dan disiksa bagi yang meninggalkan.

Dalam kitab-kitab kajian fiqih, sunnah memiliki berbagai kesamaan sebutan atau sinonim. Sinonim sunnah ada tujuh, yaitu mandub, mustahab, hasam, muraghahab fihi, fatharwu’, nafilah dan fadlilah.

3. Haram

Haram secara bahasa mempunyai arti yang dilarang. Sedangkan secara syara’ adalah perbuatan yang dilarang syariat dengan larangan yang mengikat. Hukum haram adalah mendapat pahala bagi orang yang meninggalkan atas dasar ketaatan, dan bagi yang melakukan akan disiksa.

Haram juga memiliki sebutan lain dalam literatur kajian fiqih. Sinonim haram ada enam, yaitu mahdzur, mani’, dzanbu, maksiat, majzur anhu dan nutawa’ad alaihi.

4. Makruh

Makruh secara bahasa mempunyai arti perkara yang dibenci. Dan secara syara’ adalah perbuatan yang dilarang syara’ dengan larangan yang tidak mengikat. Hukum makruh adalah mendapatkan pahala bagi yang meninggalkan atas dasar ketaatan, dan yang melakukan tidak disiksa.

5. Mubah

Mubah secara bahasa adalah perkara yang diperbolehkan. Dan secara syara’ adalah perkara yang tidak berbeda jika dilakukan atau ditinggalkan (sama-sama tidak ada pahala dan dosa). Hukum mubah tidak mendapat pahala bagi orang yang melakukan dan tidak mendapatkan dosa bagi yang meninggalkan.

Kecuali disertai niat yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala. Sinonim mubah ada tiga,yaitu jaiz, halal dan thilqu.

Penjelasan Hukum Syari’at Wadh’i

Hukum syar’i wadl’i adalah hukum-hukum Allah Swt yang menjelaskan atas keberadaan sesuatu yang menjadi sebab, syarat, mani’, sah dan fasid. al-Wadl’i terbagi menjadi lima:

1. Sebab

Sebab secara bahasa mempunyai arti tali dan sejenisnya yang digunakan sebagai perantara menuju perkara lain. Sedangkan secara syara’ adalah sesuatu yang menetapkan keberadaan musabbab (sesuatu yang disebabi) di saat wujudnya sesuatu tersebut, dan dengan tidak wujudnya sesuatu itu musabbab tidak wujud ditinjau dari sebab tersebut, tanpa memandang hal lain.

2. Syarat

Syarat secara bahasa mempunyai arti menggantungkan wujudnya suatu perkara pada perkara yang lain, dan keduanya belum wujud. Sedangkan secara syara’ adalah sesuatu yang menetapkan tidak wujudnya masyrut (sesuatuyang disyarati) dengan tidak wujudnya sesuatu tersebut.Namun dengan wujudnya sesuatu tersebut tidak pasti menetapkan wujud dan tidaknya masyrut ditinjau darisyarat itu sendiri tanpa memandang faktor lain.

3. Mani’

Mani’ secara bahasa mempunyai arti penghalang diantara dua perkara. Sedangkan secara syara’ adalah sesuatu yang menetapkan tidak wujudnya mamnu’ (perkara yang dicegah), namun di saat sesuatu itu wujud tidak dapat menetapkan wujud dan tidaknya mamnu’ ditinjau dari mani’ itu sendiri.

4. Shahih

Shahih secara bahasa mempunyai arti kebalikan sakit. Dan secara syara’ adalah suatu pekerjaan yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, baik berupa ibadah maupun transaksi.

5. Fasad

Fasad secara bahasa mempunyai arti kebalikan sah. Dan secara syara’ adalah suatu pekerjaaan yang tidak memenuhi syarat-syarat sah, baik ibadah maupun transaksi.

Demikian artikel yang membahas tentang penjelasan hukum syari’at islam. Semoga bermanfaat dan menambah kepahaman pembaca sekalian dalam mempelajari agama islam.

BACA JUGA:

Tinggalkan komentar