Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Setelah membahas tata cara wudhu dan syarat sah wudhu pada artikel yang sudah terlebih dahulu terbit. Pada kesempatan kali ini akan kita bahas hal-hal yang membatalkan wudhu. Insya Alloh akan segera menyusul artikel yang membahas tentang sunnah-sunnah wudhu.

Setelah berwudhu, kita diharuskan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan wudhu, sampai ibadah yang akan kita laksanakan dengan wudhu tersebut selesai. Karena ibarat pakaian, kita tidak boleh melepaskan pakaian sebelum kita selesai melakukan aktivitas dan boleh melepasnya setelah kembali kerumah.

Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu yang sulit dikendalikan dan membatalkan wudhu sebelum beribadah atau dipertengahan ibadah? Tentu saja kita harus mengulang dari awal lagi. Artinya, kita harus wudhu lagi dan mengulang ibadah yang batal karena wudhu kita batal dalam pertengahan ibadah tersebut.

Apa Saja yang Membatalkan Wudhu?

Hal-hal yang membatalkan wudhu secara garis besar ada empat, yaitu:

1. Sesuatu yang keluar dari dua jalan pembuangan

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Yang dimaksud dua jalan pembuangan adalah jalan depan dan belakang. Jalan depan biasa digunakan untuk pipis dan jalan belakang untuk buang air besar. Jadi, perkara apapun yang keluar dari dua jalan ini otomatis membatalkan wudhu.

Lalu apakah semua yang keluar dari dua jalan tersebut membatalkan wudhu? Jawabnya tidak, ada satu yang tidak membatalkan wudhu, yaitu sp3rma. Kesimpulan singkatnya, perkara berupa apapun selain sp3rma, otomatis membatalkan wudhu. Baik berupa cair, gas, lembek, keras, basah maupun kering.

Kenapa sp3rma tidak membatalkan wudhu?

Jawabnya, Karena sp3rma mewajibkan perkara yang lebih besar atau berat dari pada wudhu, yaitu mandi besar, sehingga tidak lagi mewajibkan wudhu yang hanya menghilangkan hadats kecil.

Jawaban ini berdasar kaidah fiqih: “Setiap seuatu yang mewajibkan perkara yang lebih besar atau berat diantara dua perkara ditinjau dari kekhususannya,maka tidak lagi mewajibkan yang lebih rendah ditinjau dari keumumannya, seperti keluar sp3rma yang tidak mewajibkan wudhu”.

Butuh penjabaran yang lebih mendalam? yuk simak lebih lanjut. keluarnya sp3rma mewajibkan sesuatu yang lebih besar atau berat diantara dua perkara, yaitu mandi besar ditinjau dari kekhususan berupa sp3rma.

Sehingga tidak lagi mewajibkan yang lebih rendah atau ringan, yaitu wudhu ditinjau dari keumuman bahwa sp3rma termasuk sesuatu yang keluar dari kem4luan.

Sebagaimana yang diungkapkan penyusun Shafwatul az-Zubad:”Yang mewajibkan wudhu adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan, selain sp3rma yang telah mewajibkan mandi besar.”

2. Hilangnya Kesadaran atau Akal

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Hal-hal yang membatalkan wudhu berikutnya adalah hilangnya kesadaran atau akal. Maksudnya adalah kondisi dimana pada umumnya manusia normal tidak bisa mengendalikan akal pikirannya. Penyebab dari hilangnya akal pikiran atau kesadaran diantaranya adalah tidur. Karena pada saat tidur seseorang tidak bisa mengendalikan akalnya.

Penyebab lain selain tidur adalah mabuk, gila, pingsan, epilepsi dan hal lain yang berpengaruh sama. Hukum batal tersebut baik hilangnya akal karena kecerobohan atau tidak, disengaja atau tidak. Jadi, entah karena faktor apapun, jika seseorang dalam kondisi tersebut secara otomatis batal wudhunya.

Syarat-syarat tidur yang tidak membatalkan wudhu

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

  1. Tidur dengan posisi menetapkan pantat pada lantai. Dengan arti lubang pantatnya menempel pada lantai sampai kira-kira tidak memungkinkan keluarnya kentut.
  2. Postur tubuhnya sedang, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.
  3. ketika bangun tetap dalam posisi saat tidur (duduk menetap).
  4. menurut imam Ar-Ramli, tidak ada orang ma’sum (orang yang membiasakan diri menghindar dari dosa) yang memberitahu bahwa ia kentut ketika tidur. Sedangkan menurut Ibnu Hajar sudah dianggap cukup jika yang memberitahu adalah orang adil.

3. Bersentuhan kulit Lawan Jenis

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Syarat batalnya wudhu sebab bersentuhan kulit lawan jenis

  1. Yang bersentuhan langsung adalah bagian kulit, sehingga mengecualikan gigi, kuku dan rambut.
  2. Kedua orang yang bersentuhan adalah lawan jenis, maka tidak batal sebab bersentuhannya dua laki-laki atau dua perempuan, begitu pula khuntsa (banci asli).
  3. Keduanya sudah dewasa, yaitu telah mencapai batasan dewasa secara urf (tradisi). Sekira kalau ada orang yang memiliki akal sehat melihatnya niscaya ingin menikahinya, meskipun keduanya belum baligh.
  4. Tidak ada ikatan mahram diantara keduanya, seperti orang tua, saudara atau mertua.
  5. Tidak ada penghalang diantara dua kulit yang bersentuhan.

Permasalahan bersentuhan kulit lawan jenis

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

1. Menyentuh anggota yang terpisah dari badan. Jika anggota yang terpisah dari badan adalah anggota di atas separuh badan (di atas pusar) seperti tangan, menurut Ibnu Hajar menyentuhnya dapat membatalkan wudhu secara mutlak.

Sedangkan menurut Ar-Ramli hukum menyentuhnya dapat membatalkan jika nama identik anggota tersebut masih tetap, sekira masih layak disebut perempuan atau laki-laki.

2. Jika ada orang yang memberitahu bahwa wudhunya batal, menurut imam Ar-Ramli hukum wudhunya orang yang diberitahu menjadi batal, jika yang memberitahu adalah orang ma’sum. Sedangkan menurut Ibnu Hajar sudah bisa membatalkan jika yang memberitahu adalah orang adil.

4. Menyentuh K3lamin atau Lingkaran Dubur

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Hal-hal yang membatalkan wudhu berikutnya adalah menyentuh k3lamin atau lingkaran dubur dengan telapak tangan atau telapak jari tangan. Dalam hal ini yang dihukumi batal adalah wudhu orang yang menyentuh, bukan yang disentuh.

Menyentuh sebagian dari k3lamin atau dubur yang terputus dari badan dapat membatalkan wudhu jika memang status namanya masih tetap. Maksudnya, selagi bagian yang terputus tersebut masih dapat dikenali bahwa itu merupakan bagian dari k3lamin.

Penjelasan Batas-batas Anggota Tubuh

Yang dikehendaki dari bagian k3lamin yang membatalkan adalah batang p3nis, mengecualikan dua buah p3lir dan bulu k3maluan, ini pada laki-laki.

Sedangkan pada perempuan adalah dua bibir v4gina yang bertemu saat menutup, mengecualikan bagian diantara keduanya. Lingkaran dubur adalah tempat bertemunya jalan keluarnya kotoran, mengecualikan lipatan-lipatannya.

Bagian dalam telapak tangan atau bagian dalam jari tangan adalah bagian yang tertutup ketika menempelkan salah satunya pada telapak tangan yang lain dengan agak menekannya.

Demikianlah artikel tentang hal-hal yang membatalkan wudhu dari kami. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Segala kesalahan dalam kajian dan pengetikan adalah murni kebodohan saya. Dan kami membuka seluas-luasnya pintu kritik dan koreksi yang bersifat membangun.

Referensi:

  • kitab Fathul Mu’in, fasl tentang sholat, Karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannaniy.
  • Kitab Fathul qorib, fasl kitab at-thoharoh, Karya Syeikh Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim Al-Ghozi.
  • kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, bab wudhu, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.
  • kitab Tausyikh ‘alaa ibni qosim, kitab at-thoharoh, karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi (Banten).
  • Kitab I’anatuth tholibin, juz 1, karya Syeikh Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyati, cetakan haramain / maktabah futuhiyyah.

BACA JUGA:

Tinggalkan komentar