Doa Qunut

Islamiyyah.net – Doa qunut biasa dibaca oleh seorang muslim ketika melaksanakan sholat subuh setiap hari. Juga dibaca saat Ramadhan ketika melaksanakan sholat witir. Tepatnya pada tanggal separuh akhir bulan Ramadhan.

Namun tahukah bahwa sebenarnya mengucapkan doa qunut merupakan kesunahan dalam sholat. Kesunahan didalam pelaksanaan sholat ada 2.

Yang pertama yaitu sunnah ab’adh (kesunahan yang apabila ditinggalkan sebaiknya diganti sujud sahwi sebelum salam). Kemudian yang kedua adalah sunnah haiat (kesunahan yang apabila ditinggalkan tidak ada konsekuensi sama sekali).

Dalam hal ini doa qunut masuk sebagai kategori sunnah ab’adh, yang apabila tidak dilaksanakan karena lupa ataupun sengaja, maka seyogyanya melaksanakan sujud sahwi sebelum salam.

[Reverensi: kitab Fathul Mu’in, fasl tentang sunnah ab’adh sholat, hal. 18-19 cetakan Al-Haramain, Karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannaniy]

Pengertian Doa Qunut

Pengertian Doa Qunut

Secara Bahasa (arti dalam kamus besar) qunut bermakna doa. Dan secara syara’ (arti secara kajian fiqih) adalah dzikir tertentu. Saat membaca doa qunut dalam sholat, sunnah mengangkat kedua tangan, mengeraskan suara bagi imam, dan membaca amin bagi makmum.

Sunnah pula membaca sholawat dan salam untuk baginda nabi Muhammad Sollallohu ‘Alaihi Wasallam, juga keluarga dan para sahabat beliau sekalian dalam doa qunut.

Contoh sholawat yang disunnahkan dalam doa qunut:

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

“Washallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadinin nabiyyil ummiyyi, Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam”

Lafadz doa qunut secara lengkap akan dituliskan dibawah, doa qunut tidak harus menggunakan kalimat yang akan dituliskan nanti. Sehingga, seandainya seseorang melaksanakan qunut dengan membaca ayat al-qur’an yang mengandung doa dan bermaksud untuk doa qunut, maka kesunnahan qunut telah berhasil didapat.

[Sumber: Kitab Fathul qorib, fasl kitab hukum-hukum sholat, Karya Syeikh Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim Al-Ghozi, hal. 14 cetakan pesantren fathul ulum pare, kediri]

Pembagian Doa Qunut

Dalam literatur ilmu fiqih yang menjelaskan tentang tatanan hukum islam, doa qunut terbagi menjadi dua:

1. Qunut ratibah, dilakukan pada dua kesempatan:

  • Saat I’tidal kedua dalam shalat subuh.
  • Saat I’tidal terakhir dalam shalat witir diseparuh akhir dari bulan Ramadhan.

2. Qunut nazilah, qunut ini sunnah dilakukan disetiap shalat fardhu saat ada musibah yang melanda kaum muslimin dimanapun berada. Pelaksanaannya tidak disyaratkan harus ditempat musibah.

[Sumber: kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff]

Doa Qunut dalam Tulisan Arab

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ

وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ

وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ

وَبَارِكْ اَللّهُمَّ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ

وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْت

فَاِ نَّكَ سُبْحانَك تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْك

وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ

وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ

تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ

وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

[Dikutip dari kitab Tausyikh ‘alaa ibni qosim, karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi (Banten)]

Doa Qunut dalam Abjad Latin

Allohummah dinii fiiman hadaiit.

Wa’aafinii fiiman ‘aafait.

Watawallanii fiiman tawallaiit.

Wabaarikillahumma lii fiimaa a’thoiit.

Waqinii syarramaa qodhoit.

Fainnaka subhaanaka taqdhii walaa yuqdho ‘alaik.

Wainnahu laa yadzillu man walaiit.

Walaa ya’izzu man ‘aadaiit.

Tabaarakta rabbanaa wata’aalaiit.

Falakal hamdu ‘alaa maa qodhoiit.

Astaghfiruka wa ’atuubu ilaiik.

Wasollallohu ‘ala Sayyidina Muhammadin Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam.

Arti dalam Bahasa Indonesia

Ya Allah, tunjukkanlah padaku seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk.

Berilah karunia kesehatan kepadaku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan.

Jagalah aku seperti orang-orang yang telah Engkau jaga.

Berkahilah aku seperti orang-orang yang telah Engkau berkahi.

Peliharalah kami dengan kasih sayangMu dari bahaya kejelekan yang telah Engkau pastikan.

Sungguh Engkaulah sang maha pemberi hukuman, bukan merupakan sasaran hukum.

Dan sesungguhnya tidak akan hina orang-orang yang Engkau pelihara.

Juga tidak akan mulia orang-orang yang memusuhimu.

Maha suci Engkau wahai tuhanku dan maha mulia engkau.

Bagimu segala puji atas segala hukum ketentuanMu.

Kami meminta ampun dan kami bertaubat kepadaMu.

Semoga senantiasa Alloh curahkan rahmat ta’dzim serta salam keharibaan baginda Nabi Muhammad serta keluarga dan sahabatnya.

Dalil Eksistensi dan Relevansi

Al-Imam Ahmad bin Hanbal menuliskan dalam kitabnya hadits berikut ini :

مَا زَال رَسُول اللَّهِ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam tetap melaksanakan doa qunut pada shalat fajr (shubuh) hingga beliau meninggal dunia”. (HR. Ahmad).

عَنْ أنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ ثُمَّ تَرَكَهَ فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتىَّ فَارَقَ الدُّنْيَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa “Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam melakukan doa qunut selama sebulan dengan mendoakan keburukan untuk mereka (suatu kaum), kemudian meninggalkannya. Sedangkan pada waktu sholat shubuh, beliau tetap melaksanakan doa qunut hingga meninggal dunia”. (HR. Al-Baihaqi)

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hafidz, dari Bakr bin Muhammad As-Shairafi, dari Ahmad bin Muhammad bin Isa, dari Abu Na’im, dari Abu Ja’far Ar-Razi, dari Rabi’ bin Anas, dari Anas, dari Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

[cuplikan hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad, jilid 2 hal. 215]

Sedangkan derajat hadits tersebut dinyatakan shahih menurut beberapa ulama ahli hadits, di antaranya adalah :

  • Al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ali Al-Balkhi menyatakan bahwa sanad ini shahih dan para rawinya tsiqqah (kuat).
  • Al-Hakim dalam kitab Al-Arbainnya berkata bahwa hadits tersebut shahih.
  • Diriwayatkan pula oleh Imam Ad-Daruquthni dengan sanad yang shahih. [7]

Dalam hadits Al-Baihaqi tersebut tertulis perbedaan antara doa qunut dan doa keburukan kepada suatu kaum. Jelas sekali bahwa yang dimaksud bahwa Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam melakukannya selama satu bulan lantas meninggalkannya, itu bukan qunutnya, melainkan doa keburukan kaum tersebut.

Kesimpulannya, doa qunut tetap dilaksanakan hingga Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wasallam meninggal dunia, dan yang beliau tinggalkan hanyalah doa keburukan saja.

Faidah, Hikmah, dan Manfaat

Doa Qunut

Mengucapkan doa qunut memang di syari’atkan (diatur dalam tatanan hukum agama islam). Lalu apa faidah, hikmah dan manfaat yang diperoleh bagi yang melaksanakannya?

Sudah maklum diketahui bahwa sholat subuh wajib dilaksanakan setiap muslim pada awal fajar untuk mengawali harinya sebelum tersibukkan oleh hal apapun.

Alloh mewajibkan setiap hamba yang menyembahnya menghadap dengan perantara sholat subuh pada waktu tersebut.

Ulama’ terdahulu menganjurkan pelaksanaan doa qunut dengan memfatwakannya sebagai kategori sunnah ab’adh. Tentunya dengan berbagai kajian mendasar dan disandarkan pada Nabi Muhammad Sollallohu alaihi wasallam sebagai figur uswatun khasanah.

Berikut ulasan tentang tujuan, hikmah, dan manfaat doa qunut:

1. Mendapat Hidayah atau Bimbingan Alloh.

Sebelum beranjak mengawali kegiatan dari pagi sampai petang hari. Kita dianjurkan meminta bimbingan kepada Alloh, agar dalam menjalani kegiatan dalam sehari penuh senantiasa dalam ridho-Nya.

Dengan membaca doa qunut saat sholat subuh, kita telah mengikrarkan diri untuk senantiasa diberikan hidayah dalam setiap langkah.

Melalui lafadz “Allohummah dinii fiiman hadaiit” pada awalan doa qunut ini. Semoga senantiasa mendapatkan bimbingan hidayah-nya, Agar kita terhindar dari perbuatan yang dibenci oleh Alloh SWT.

2. Karunia Kesehatan Jiwa dan Raga

Kesehatan jiwa dan raga sangatlah penting sebagai modal utama dalam menjalani kesibukan keseharian. Karena tanpa kesehatan kita akan terbaring tak dapat melakukan apa-apa.

“Wa’aafinii fiiman ‘aafait” jika sobat Islamiy amati arti dari lafadz tersebut memanglah sederhana. Akan tetapi coba renungkan saat mengucapkannya sebagai permohonan kepada Alloh SWT sang maha pemberi karunia!

Tidak hanya kesehatan raga yang terlihat mata manusia, akan tetapi kesehatan jiwa atau ruh sebagai esensi dari nilai dan derajat manusia dihadapan tuhannya.

3. Penjagaan Diri

“Watawallanii fiiman tawallaiit” lafadz tersebut mencerminkan permohonan seseorang yang mengucapkannya untuk selalu dijaga dari apapun yang tidak diinginkannya.

Sebagai seorang hamba, kita harus mengakui bahwa tiada daya apapun dalam diri kita tanpa pertolongan Alloh SWT. Maka dari itu kita dianjurkan selalu memohon penjagaan diri kepada-Nya.

Dengan lafadz tersebut, kita yang masih lemah dan rendah derajat imannya, memohon semoga diberikan penjagaan diri seperti halnya orang-orang terpilih yang selalu dijaga oleh Alloh.

4. Keberkahan Hidup

Arti berkah menurut mayoritas ulama’ adalah bertambahnya kebaikan, sebagai hamba Alloh, kita dianjurkan menjalani kehidupan sesuai tatanan hukum syari’at. Tujuannya tak lain adalah taat menjalankan syari’at untuk mengharap berkah dari Alloh.

Dalam doa qunut terdapat lafadz “Wabaariklii fiimaa a’thoiit” berarti kita mengawali hari dengan menjalankan syari’at sesuai yang diajarkan Nabi. Ketaatan yang dilakukan tersebut agar dikaruniakan kepada kita keberkahan dalam aktivitas, pekerjaan, dan sebagainya.

5. Pemeliharaan dengan Kasih Sayang Alloh

Alloh maha pengasih lagi maha penyayang, semoga sobat Islamiy sekalian selalu dalam pemeliharaan kasih sayang-Nya. Dengan doa qunut yang kita ucapkan, kita berikrar memohon agar selalu dipelihara dalam kasih Alloh.

Lebih tepatnya pada lafadz “Waqinii birohmatika syarramaa qodhoit”, sobat Islamiy bisa cermati makna yang terkandung.

Sebagai faidah atau manfaatnya, kita akan senantiasa dalam peliharaan kasih Alloh dari kejelekan yang telah ditetapkan (ditaqdirkan)-Nya.

6. Ampunan, Taubat dan Sanjungan

Hikmah yang terkandung dalam doa qunut selebihnya adalah ucapan permohonan ampun dan taubat kepada Alloh sebagai cerminan pengakuan atas dosa dan kesalahan.

Kemudian terdapat pula makna-makna sanjungan kepada Alloh atas sifatnya yang maha sempurna. Juga untaian sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Sallam berikut keluarga dan para sahabatnya.

Hikmah tersebut merupakan etika atau adab yang penting disertakan dalam setiap doa. Karena menyadari posisi kita sebagai seorang hamba yang mengharap kepada tuhannya.

Kisah Renungan Toleransi

Kisah Doa Qunut Imam Syafi'i

Syahdan, pada suatu kesempatan Imam Syafi’i (imam dari madzhab syafi’iyyah) ziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Beliau bermalam selama sekitar tujuh hari.

Pada kesempatan itu, beliau membaca Al-qur’an sampai khatam. setelah mengkhatamkan Al-qur’an, pahala bacaannya beliau hadiahkan kepada Imam Abu Hanifah (imam dari madzhab hanafi).

Penghormatan kala itu tak hanya beliau wujudkan dengan menziarahi makam serta mendoakan Imam Abu Hanifah. Namun juga beliau wujudkan dalam tata cara beribadah.

Selama Imam Syafi’I bermalam dalam kesempatan ziarah itu, beliau meninggalkan do’a qunut dalam shalat subuh yang dilakukannya.

Mungkin bagi muslim seperti kita, hal semacam ini sangat terdengar aneh. Sejauh yang kita ketahui, madzhab Syafi’iyyah meyakini bahwa melakukan do’a qunut hukummya sunnah muakkad (diprioritaskan) dalam sholat subuh.

Bahkan jika lupa mengerjakannya, dianjurkan untuk menggantinya dengan sujud sahwi. Rasa aneh juga dirasakan oleh murid-murid Imam Syafi’i.

pertanyaan maklum dari muridnya pun terlontar “Apa alasan Anda tidak melakukan do’a qunut sewaktu berada di pemakaman Imam Abu Hanifah?”.

Imam syafi’I menjawab “Karena Imam Abu Hanifah berfatwa do’a qunut tidak termasuk sunnah dalam pelaksanaan shalat subuh, maka aku meninggalkannya karena taadduban (etika) kepada Imam Abu Hanifah”.

[Dikisahkan dalam kitab at-Tibyan, karya Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari]

BACA JUGA: Tuntunan Sholat Sesuai Sunnah Kaidah Hukum Islam

Tinggalkan komentar