Bacaan Sholat Lengkap

Islamiyyah.net – √ Dalam artikel kali ini, kita akan membahas sholat beserta apa saja yang terkait. Artikel ini sangat panjang karena membahas banyak hal, silahkan klik daftar isi untuk melihat informasi yang dibutuhkan.

Sholat menjadi salah satu rutinitas peribadatan umat muslim didunia. Dalam 24 jam seorang muslim diwajibkan sholat pada 5 waktu yang maklum diketahui. Ibadah sholat juga menjadi rutinitas favorit Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sebagai panutan.

Al-qur’an sebagai kitab suci juga telah banyak menyinggung tentang sholat dan keutamaannya berikut konsekuensi bagi yang meninggalkannya. Diantaranya terdapat pada surat Thaha ayat 14 dan surat Hud ayat 114.

Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam pun telah banyak menyinggung dalam sabdanya. Diantaranya adalah hadits riwayat At-Thabrani, menyatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda: “penenang hatiku dijadikan didalam sholat”.

Selain sholat wajib atau sholat fardhu 5 waktu, ada juga sholat yang tergolong sebagai sholat sunnah. Diantaranya sholat sunnah dhuha, sholat tahajud, sholat istikharah dan lain sebagainya.

Definisi Sholat

Secara Bahasa (arti dalam kamus besar) sholat bermakna doa. Ada (ulama’) yang mengatakan makna sholat adalah doa kebaikan. Sedangkan secara syara’ (arti dalam kajian fiqh) , sholat adalah aktivitas perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam secara umum.

Dari ungkapan “secara umum” diatas, mengecualikan sholat-sholat dibawah ini:

  1. Sholat yang terdiri dari perkataan tanpa ada perbuatan, seperti sholat jenazah, sholatnya orang yang diikat dan orang sakit yang hanya mampu melakukan rukun-rukun sholat dalam hati.
  2. Sholat yang terdiri dari perbuatan tanpa ada perkataan didalamnya, seperti sholatnya orang bisu.
  3. Sholat tanpa perkataan dan perbuatan , seperti sholatnya orang bisu yang diikat.

Pembagian waktu sholat

Sholat fardhu lima waktu, yaitu sholat dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan subuh. Semua sholat fardhu ini di kumpulkan untuk Nabi kita Muhammad Saw di dalam dua ayat Al-qur’an, antara lain firman Alloh Swt dalam surat Ar-Rum ayat 17-18:

 فَسُبْحَانَ اللَّه حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ (*) وَلَهُ الْحَمْدُ فِيْ السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ

Artinya: “Maka bertasbihlah kepada Alloh saat kamu berada di petang hari dan saat kamu di waktu subuh. (17) dan bagiNyalah segala puji di langit dan dibumi, dan di waktu kamu berada pada petang hari juga di waktu kamu berada di waktu dhuhur. (18) ”.

Dan surat Al-Isra’ ayat 78:

 أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Artinya: “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

1. Sholat Dhuhur

Disebut dhuhur yang berarti jelas, karena tampak jelas disiang hari. Ada yang berpendapat karena sholat dhuhur dilaksanakan diwaktu terang benderang. Juga ada yang berpendapat karena dhuhur adalah sholat yang pertama tampak didalam islam.

Waktu sholat dzuhur dimulai dari tergelincirnya matahari (bergesernya matahari ke arah barat dari tengah-tengah langit). Sampai ketika ukuran bayang-bayang setiap benda sama dengan ukuran benda aslinya.

2. Sholat ashar

Secara bahasa Ashar mempunyai arti tahun. Diantara sholat fardhu lima waktu, sholat ashar adalah sholat yang paling utama dan merupakan sholat Al-Wustho yang diisyaratkan dalam firman Alloh Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 238:

حَافِضُوْا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الوُسْطَى وَقُوْمُوْا لِلَّهِ قَانِتِيْنَ

Artinya: “peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wustho. Berdirilah untuk Alloh (dalam sholatmu) dengan khusyu’.”

Waktu sholat ashar dimulai ketika ukuran bayang-bayang setiap benda telah melebihi ukuran benda aslinya, walaupun sedikit. Sampai batas akhirnya adalah ketika terbenamnya seluruh bulatan matahari.

3. Sholat Maghrib

Waktu Sholat Maghrib

Secara Bahasa maghrib mempunyai arti waktu terbenam. Diantara sholat fardhu lima waktu, maghrib adalah sholat yang paling pendek waktunya.

Maka dari itu, jika sobat Islamiy mendengar suara adzan maghrib, langsung bergegas menuju masjid atau semisalnya dan laksanakan segera ya sob!

Waktu sholat maghrib dimulai sejak terbenamnya seluruh bulatan matahari. Sampai batas akhirnya yaitu terbenamnya mega merah di ufuk.

4. Sholat Isya’

Secara Bahasa Isya’ mempunyai arti nama permulaan petang. Isya’ adalah sholat yang paling lama waktunya. Waktu sholat isya’ dimulai dari terbenamnya mega merah di ufuk sampai terbitnya fajar shodiq.

Mega ada tiga macam:

  • Mega Merah
  • Mega Kuning
  • Mega Putih

Sunnah melaksanakan sholat isya’ setelah terbenamnya mega putih dan kuning. Hal ini untuk menghindari perselisihan ulama’ yang menyatakan bahwa sesungguhnya waktu sholat isya’ dimulai sejak terbenamnya mega putih.

5. Sholat shubuh

Secara Bahasa shubuh mempunyai arti permulaan siang. Sholat ini disebut juga sholat fajar. Berjamaah di dalam sholat shubuh merupakan sholat berjamaah yang paling utama.Waktu sholat shubuh dimulai sejak terbitnya fajar shodiq sampai terbitnya sebagian dari bulatan matahari.

Mengenal perbedaan fajar shodiq dan fajar kadzib:

  • Fajar shodiq : cahayanya menyebar dan semakin bertambah terang. Membentang dari selatan ke utara. Berhubungan dengan masuknya waktu sholat dan awal puasa.
  • Fajar kadzib: sinarnya diikuti oleh gelapnya malam. Memanjang dari timur ke barat. Tidak berhubungan dengan waktu.

Syarat wajib dan Syarat Sah sholat

Yang dimaksud syarat wajib sholat adalah syarat-syarat yang jika terkumpul dalam diri seseorang maka wajib baginya untuk melaksanakan sholat.

Syarat wajib sholat ada enam:

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Suci dari haidl dan nifas
  5. Mengetahui hukum wajib sholat dengan Mendengar dakwah islam
  6. Mempunyai indera yang normal

Sedangkan syarat sah sholat adalah syarat-syarat yang mempengaruhi sah atau tidaknya sholat secara hukum fiqh. Dengan kata lain, sholat seseorang dihukumi tidak sah kecuali memenuhi syarat-syarat ini.

Mulai dari permulaan sholat hingga akhir sholat. Dan syarat-syarat tersebut jumlahnya ada tujuh, antara lain:

1. Masuk Waktu Sholat

Sholat tidak dihukumi sah kecuali dilaksanakan setelah masuk waktu sholat. Baik mengerti secara yakin ataupun hanya dugaan setelah melakukan ijtihad (usaha untuk mengetahuinya).

Tahapan-tahapan mengetahui masuknya waktu sholat ada enam:

  1. Memungkinkan untuk mengetahui waktu dengan yakin, seperti tenggelamnya matahari.
  2. Adanya orang yang memberi kabar tentang masuknya waktu.
  3. Waktu-waktu yang teruji atau adanya orang adzan yang dapat dipercaya pada waktu mendung.
  4. Memungkinkan ijtihad bagi orang yang bisa melihat dengan melakukan sesuatu.
  5. Memungkinkan ijtihad bagi orang buta dengan melakukan sesuatu.
  6. Taqlid, dengan mengikuti orang yang bisa dipercaya secara mutlak, tahapan ini hanya boleh dilakukan bagi seseorang yang hanya mampu dalam tahapan kelima.

2. Menghadap Qiblat

Ka'bah Kiblat Sholat

Menurut madzhab syafi’iyyah, seseorang yang hendak sholat wajib menghadap kearah bentuk fisik qiblat, yaitu ka’bah. Tidak cukup hanya menghadap pada arah qiblat menurut pendapat mu’tamad (pendapat ulama’ yang bisa digunakan untuk dasar melakukan sesuatu).

Menghadap qiblat adakalanya dengan yakin, jika tidak ada penghalang antara orang yang sholat dan ka’bah. Dan adakalanya hanya dengan dugaan, jika ada penghalang antara orang yang hendak sholat dan ka’bah.

Berikut tata cara menghadap qiblat bagi orang yang sholat:

  • Jika posisi sholat berdiri atau duduk, maka menghadap qiblat dengan dadanya.
  • Jika posisi sholat tidur miring, maka menghadap qiblat dengan wajah dan dada.
  • Jika posisi sholat tidur terlentang, maka menghadap qiblat dengan lekukan kedua telapak kaki dan wajah.

3. Suci dari Hadats Besar dan Hadats Kecil

Yang dimaksud hadats besar adalah segala sesuatu yang mewajibkan mandi wajib atau mandi besar untuk mensucikannya. Tentang apa saja yang mewajibkan mandi, insya alloh akan dibahas pada artikel tentang mandi wajib.

Kemudian yang dimaksud hadats kecil adalah segala sesuatu yang mewajibkan wudhu’ untuk mensucikannya. Diantaranya adalah keluarnya kentut, pipis dan lain sebagainya.

Apabila seseorang sholat tanpa bersuci, maka sholatnya tidak sah, meski ia dalam keadaan lupa. Dan ia tetap mendapatkan pahala karena tujuannya, bukan karena pekerjaannya. Sebagaimana pemberian pahala kepada orang yang membaca Al-qur’an dalam keadaan hadats kecil, bukan dalam keadaan junub.

Bagi orang yang berhadats ketika sholat atau hamper iqomah, disunnahkan memegang hidungnya dan mundur. Hal ini dilakukan untuk menutup diri dari perbincangan (tidak baik) manusia.

4. Suci dari Najis pada Baju, Badan dan Tempat

Yang dimaksud pakaian adalah perkara apapun yang dipakai atau dibawa seseorang saat sholat. Meski tidak ikut bergerak karena pergerakan orang terseut. Begitu juga perkara yang menempel dengan seseorang saat sholat.

Yang dimaksud dengan badan adalah anggota badan bagian luar, hal ini mencakup bagian dalam hidung, mulut dan mata. Sedangkan yang dimaksud dengan tempat adalah perkara yang digunakan sebagai alas. Dan bersentuhan langsung pada baju yang dikenakan dan badan saat melaksanakan sholat.

5. Menutup Aurat

Aurat menurut arti Bahasa adalah kekurangan. Sedangkan menurut arti syara’ berarti perkara yang wajib ditutupi dan haram dilihat.

Syarat penutup aurat ada dua:

  • Mencakup pada perkara yang ditutupi dengan cara dipakai, maka tidak di nilai cukup dengan cara berada di tempat berbentuk lubang atau didalam tenda.
  • Dapat menutup atau menyamarkan warna asli kulit.

Aurat laki-laki ada empat:

  1. Dalam keadaan sendiri auratnya adalah dua perkara buruk. Yaitu kem4luan dan dub*r. Disebut perkara buruk karena membuat buruk pemiliknya jika membukanya.
  2. Pada waktu sholat, dihadapan perempuan mahrom (perempuan yang tidak boleh dinikah) dan dihadapan laki-laki auratnya adalah diantara pusar dan lutut. Sedangkan pusar dan lutut tidak termasuk aurat. Namun wajib menutupi bagian dari keduanya karena ada kaidah: “perkara yang tidak sempurna kecuali dengan perkara tersebut, maka hukumnya wajib”.
  3. Dihadapan ajnabiyah (perempuan yang bukan mahrom) auratnya seluruh badan.
  4. Dihadapan Khalilah (istri) tidak ada aurat.

Aurat perempuan ada lima:

  1. Dalam keadaan sendiri, dihadapan perempuan dan laki-laki mahrom auratnya diantara pusar dan lutut.
  2. Dihadapan perempuan fasiq dan kafir auratnya adalah anggota badan yang tidak tampak ketika bekerja. Anggota badan yang tampak ketika bekerja bukan aurat. Yakni, kepala, wajah, leher, kedua tangan sampai kedua lengan dan kedua kaki sampai kedua lutut, dan selainnya bukan aurat.
  3. Pada waktu sholat auratnya seluruh anggota badan selain wajah dan kedua telapak tangan.
  4. Dihadapan laki-laki ajnabiy auratnya semua badan.
  5. Dihadapan suaminya tidak ada aurat.

6. Mengetahui Fardhu Sholat

Sholat fardhu atau wajib dilaksanakan oleh seorang muslim ada 5, seperti yang telah disebutkan, yaitu dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan shubuh.

Sebagai muslim sejati, tentunya harus mau mempelajari ilmu agama agar peribadatan yang dilakukan sesuai dengan yang di ajarkan.

Ketika tiba saatnya seorang muslim memenuhi syarat wajib untuk melaksanakan sholat. Maka wajib pula baginya mempelajari segala hal yang terkait tentang sholat.

Apabila seseorang ragu-ragu dengan hukum fardhu dari sholat yang ia kerjakan, maka sholatnya tidak dapat dihukumi sah.

7. Tidak Meyakini Salah Satu dari Beberapa Fardhu Sholat Sebagai Kesunnahan

Dalam permasalahan ini ada beberapa contoh:

  • Terkadang seseorang meyakini seluruh prosesi dalam sholatnya adalah fardhu, jika demikian hukum sholatnya sah.
  • Terkadang seseorang meyakini seluruh prosesi dalam sholatnya adalah sunnah, jika demikian hukum sholatnya tidak sah.
  • Terkadang seseorang meyakini dalam sholatnya terdapat fardhu dan sunnah. Namun ia tak dapat membedakan antara keduanya. Jika demikian hukum sholatnya tetap sah jika ia orang awam dan mau belajar.
  • Terkadang seseorang meyakini bahwa semisal rukuk dan I’tidal adalah sunnah. Dan ia tidak menentukannya, jika demikian hukum sholatnya tetap sah. Karena ia tidak melakukan rukun dengan meyakini bahwa itu sunnah. Namun ia mengalami keraguan dalam kesunnahannya. Dan hal ini tidak mempengaruhi keabsahan sholat.

Tata Cara Sholat Sesuai Tuntunan Sunnah

Tuntunan Sholat

Tata cara pelaksanaan sholat disebut juga rukun sholat. Mari kita pelajari dengan teliti, agar kepahaman yang didapat maksimal.

Berikut ulasan serta penjelasan tata cara sholat:

1. Niat

Tempat niat adalah hati, dan mengucapkannya dihukumi sunnah. Waktu niat sholat adalah pada pertengahan takbiratul ihram. Apabila seseorang takbiratul ihram tanpa berniat dalam hatinya, kemudian setelahnya berniat, maka sholatnya tidak sah.

Derajat niat dalam sholat ada tiga macam:

  • Jika sholat fardhu, wajib menyengaja pelaksanaan sholat dengan berniat sholat dalam hati, menentukan nama sholat dengan menyebutkan waktu sholat semisal dzuhur, dan menyebutkan hukum fardhu sholat. Contoh: اُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْر (saya berniat sholat fardhu dhuhur).
  • Jika sholat sunnah yang dilakukan pada waktu tertentu, seperti sholat dhuha dan witir. Atau sholat yang dilakukan dengan sebab tertentu, seperti sholat khusuf (gerhana) dan istisqa’ (mengharap hujan). Maka hanya wajib menyengaja pelaksanaannya dan menentukan nama sholat yang dikerjakan. Contoh: اُصَلِّيْ الضُّحَى (saya berniat sholat dhuha).
  • Jika sholat sunnah Mutlaq, maka hanya wajib menyengaja pelaksanaannya saja dengan mengucapkan dalam hati lafadz اُصَلِّيْ (saya berniat sholat).

2. Takbiratul Ihram

Takbiratul Ihram dalam Sholat

Yaitu bacaan sholat ”اَللَّهُ اَكْبَرْ (Allohu Akbar)”. Disebut demikian karena takbiratul ihram mengharamkan apapun yang halal sebelumnya, seperti makan, berbicara dan semisalnya. Disunnahkan mengangkat tangan saat mengucapkan lafadz takbiratul ihram.

Syarat Takbiratul Ihram:

  1. Huruf-huruf takbiratul ihram yang diucapkan harus terdengar diri sendiri.
  2. Menggunakan Bahasa arab.
  3. Tidak ada jeda pada pengucapan dua lafadz اَللَّهُ اَكْبَرْ.
  4. Tidak mengganti huruf takbiratul ihram dengan huruf lain.
  5. Sudah masuk waktu sholat.
  6. Bersamaan dengan niat.
  7. Tidak bermaksud selain sholat.

3. Berdiri Bagi yang Mampu dalam Sholat Fardhu

Berdiri dalam Sholat

Tidak wajib berdiri dalam melaksanakan sholat sunnah, bahkan boleh duduk akan tetapi pahalanya separuh dibanding berdiri. Begitu pula boleh tidur miring, dan pahalanya seperampat dibanding berdiri.

Kemudian tidak diperbolehkan tidur terlentang dalam melaksanakan sholat sunnah bagi orang yang mampu berdiri, duduk, atau tidur miring.

Tata cara sholat bagi orang yang tidak mampu berdiri:

  • Tetap berdiri dengan miring atau membungkuk.
  • Jika tak mampu, maka bertumpu pada dua lututnya.
  • Jika tak mampu, maka sholat dengan duduk. Yang lebih afdhol (utama) dengan duduk muftarisy (duduk tahiyyat awal).
  • Jika tak mampu, maka sholat dengan tidur miring. Yang lebih afdhol miring pada sisi kanan.
  • Jika tak mampu, maka tidur terlentang bertumpu pada tengkuknya, dan berisyarat dengan ruku’nya ketika melakukan ruku’ dan sujud.
  • Jika tak mampu, maka berisyarat dengan kedua pelupuk mata.
  • Jika tak mampu, maka lakukan rukun-rukun sholat dalam hatinya.

4. Membaca Surat Al-Fatihah

Surat Fatihah dalam Sholat

Pada setiap roka’at sholat yang dilakukan wajib membaca surat Al-Fatihah. Baik sholat fardhu maupun sunnah, menjadi imam, makmum ataupun sholat sendiri.

Basmalah dihukumi sebagian ayat dari surat Al-Fatihah, maka wajib hukumnya menyertakan basmalah dalam awalan bacaan Al-Fatihah sebagai bacaan sholat.

Kesunnahan dalam Prosesi Membaca Surat Al-Fatihah:

Sebelum membaca surat Al-Fatihah, terlebih dahulu disunnahkan membaca doa iftitah.

Berikut adalah bacaan doa iftitah:

Doa Iftitah dalam Sholat
elsholat.com

Kemudian tepat sebelum membaca basmalah sebagai awalan surat al-fatihah, sunnah membaca ta’awudz.

Contoh Bacaan Ta’awudz:

اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“A ‘uu dzu billahi minasy syaithoonir rojiim”

Artti Bacaan Ta’awudz:

“aku berlindung pada Alloh dari syeitan yang dirajam”

Sunnah pula membaca Aamiin setelah selesai membaca surat Al-Fatihah. Artinya adalah “ya Alloh kabulkanlah doaku”. Bagi makmum sunnah mengeraskan bacaan Aamiin bersamaan dengan bacaan aamiin imamnya.

Bagi imam dan orang yang sholat sendirian, sunnah membaca sebagian ayat atau surat pendek dari Al-qur’an setelah selesai membaca surat Al-Fatihah. Begitu pula bagi seorang makmum yang tidak mendengar bacaan imamnya.

5. Ruku’

Gerakan Ruku' dalam Sholat

Arti ruku’ secara Bahasa adalah membungkuk. Sedangkan secara syara’ adalah membungkuknya orang yang sholat tanpa membusungkan badan, sampai kira-kira kedua telapak tangannya dapat meraih kedua lututnya.

Adapun rukuknya orang yang sholat dengan duduk, minimal dahinya lurus pada kedua lututnya. Dan yang paling sempurna , dahinya lurus dengan tempat sujudnya.

Dalam melakukan Gerakan ruku’ sunnah membaca tiga kali dzikir Rosululloh Saw berikut:

سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

“Subhaana robbiyal ‘adhiimi wabihamdih”

Arti bacaan ruku’:
“Mahasuci Tuhanku yang Maha agung dan segala puji bagi-Nya”.

Syarat ruku’:

  • Tidak bermaksud lain selain melakukan ruku’.
  • Harus tuma’ninah dalam ruku’. Tuma’ninah adalah tenang tanpa bergerak selama kira-kira bacaan subhanalloh.
  • Melakukan tuma’ninah dengan yakin, apabila ragu sudah dilaksanakan atau belum, maka tidak sah.

6. I’tidal

I'tidal dalam Sholat

Arti I’tidal menurut Bahasa adalah tegak dan menetap. Sedangkan menurut Bahasa adalah kembalinya orang yang sholat pada posisi sebelum ruku’.

I’tidal merupakan rukun sholat yang pendek dan disyari’atkan untuk memisah antara ruku’ dan sujud, sebagaimana duduk diantara dua sujud.

Kesunnahan dalam Prosesi melakukan I’tidal:

Saat bangun dari ruku’ hendak melakukan Gerakan I’tidal disunnahkan membaca bacaan sholat:

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Sami’allohu liman hamidah”

Artinya: “Alloh telah mendengar orang-orang yang memujinya”

Sunnah membaca doa yang diriwayatkan dari Rosululloh Saw saat I’tidal, yaitu:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الأَرْضِ وَمِلْءُ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

“Robbana lakal hamdu mil us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil u maa bainahuma wa mil u maa syi’ta min syai im ba’du”

Artinya: “Wahai tuhanku, bagimu segala puji. Pujian yang memenuhi langit-bumi dan ruang diantaranya. Juga memenuhi segala hal yang Engkau kehendaki setelahnya.”

Saat sholat subuh dan sholat witir pada separuh akhir bulan Ramadhan, sunnah membaca doa qunut setelah doa diatas. Berikut bacaan doa qunut yang utama:

Doa Qunut dalam Sholat

7. Sujud dua kali

Sujud dalam Sholat

Sujud secara Bahasa berarti merendah, ada pula yang mengartikan merendahkan diri dan merasa hina. Sedangkan sujud secera syara’ artinya peletakan dahi orang sholat pada tempat sholatnya.

Dua kali sujud dilakukan dengan diselingi duduk diantaranya. Dengan kesunnahan membaca tiga kali dzikir yang diriwayatkan dari Rosululloh Saw:

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

“Subhaana robbiyal ‘a’laa wa bihamdih”

Artinya: “Mahasuci Tuhanku yang Maha tinggi berikut segala puji bagi-Nya.”

Syarat-syarat Sujud:

  1. Rukun-rukun sebelumnya harus sah.
  2. Tidak bermaksud selain melakukan sujud.
  3. Thuma’ninah dengan yakin di dalam sujud.
  4. Sujud harus dilakukan dengan tujuh anggota tubuh berikut: dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan telapak jari kedua kaki.
  5. Dahi harus terbuka, meski yang digunakan sujud hanya sebagian.
  6. Tidak sujud diatas sesuatu yang bergerak sebab Gerakan anggota tubuh, seperti pucuk surban atau lengan bajunya.
  7. Anggota bagian bawah harus terangkat lebih tinggi dari pada anggota bagian atas. Yang dimaksud anggota bawah adalah pantat, dan anggota bagian atas adalah Pundak dan kepala.
  8. Menekankan kepala pada tempat sujud, dengan batas sekira sujud pada sebuah bantal akan tampak tertekan.

Sunnah-sunnah dalam sujud:

  1. Terlebih dahulu meletakkan kedua lutut kemudian baru kedua tangan, lalu kening dan hidung secara bersamaan.
  2. Kedua tangan dalam posisi terbuka, tidak menggenggam.
  3. Jari tangan dikumpulkan atau tidak merenggang dan menghadap kiblat.
  4. Bagi laki-laki sunnah merenggangkan antara kedua sikunya (sedangkan bagi perempuan sebaliknya).
  5. Merenggangkan kaki dan lutut kira-kira satu jengkal.
  6. Meletakkan tangan sejajar dengan Pundak.
  7. Menegakkan kedua kaki dan menghadapkan jari-jarinya kearah kiblat.
  8. Membuka mata, membaca tasbih, membaca dzikir yang diriwayatkan dari Rosululloh Saw (tertulis diatas) dan sungguh-sungguh dalam berdoa.

8. Duduk diantara Dua Sujud

Duduk Antara Dua Sujud

Duduk diantara dua sujud adalah rukun yang pendek, disyari’atkan karena bertujuan untuk memisah antara dua sujud. Dalam pelaksanaannya, rukun sholat ini mensyaratkan harus thuma’ninah dengan yakin, serta duduk dengan tegak.

Disamping itu juga tidak diperbolehkan memperpanjang prosesinya melebihi kadar dzikir yang disyari’atkan dan kadar minimal tasyahud.

Sunnah-sunnah dalam duduk diantara Dua Sujud:

  1. Melakukannya dengan duduk iftirasy, yaitu dengan menduduki mata kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan dengan menghadapkan jarinya kearah kiblat.
  2. Meletakkan kedua tangan pada bagian paha yang mendekati lutut.
  3. Membentangkan jari kedua tangan dengan merapatkannya dan menghadapkan kearah kiblat.
  4. Membaca doa yang diriwayatkan dari Rosululloh Saw, yaitu:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

“Robbighfir lii warham nii wajbur nii warfa’ nii warzuq nii wahdi nii wa ‘aafi nii wa’fu ‘annii.”

Artinya:
“Ya Alloh, ampunilah hamba, kasihanilah hamba, cukupilah hamba, angkatlah derajat hamba, berikanlah rejeki pada hamba, berikanlah petunjuk kepada hamba, berilah kesehatan kepada hamba dan ampunilah hamba.”

9. Tasyahud akhir

Duduk Tasyahud Akhir dalam Sholat

Dinamakan tasyahud karena didalamnya mengucapkan dua syahadat. Tasyahud akhir dilakukan dengan cara duduk tawaruk, yaitu dengan meletakkan tangan kiri beserta lengannya diatas paha kiri. Dan meletakkan tangan kanan beserta lengannya diatas paha kanan tepi lutut.

Dalam sholat selain waktu subuh, setelah melaksanakan sujud kedua pada roka’at kedua hendaknya melakukan tasyahud awal dengan cara duduk iftirasy. Bacaan yang dibaca saat tasyahud awal dan tasyahud akhir sama.

Akan tetapi pada tasyahud akhir lebih baik ditambahkan bacaan sholawat pada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat setelah bacaan tasyahud.

Syarat-syarat tasyahud:

  1. Rukun-rukun sebelumnya harus sah.
  2. Menggunakan Bahasa arab.
  3. Membaca dengan teliti dan benar semua huruf beserta tasydidnya.
  4. Tidak ada kekeliruan bacaan yang merusak makna.
  5. Dibaca saat duduk.
  6. Bacaan tasyahud terdengar oleh diri sendiri.
  7. Tertib / berurutan dan tanpa jeda yang merusak makna bacaan.

Bacaan tasyahud:

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

أَشْهدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

“At-tahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatulillaah.

Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin.

Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar Rosuulullaah”.

Artinya:

“Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah.

Salam, rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad).

Salam keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah untuk kami juga seluruh hamba-hamba yang sholeh.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Serta bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

10. Doa sholawat kepada Rosululloh Saw

Syarat-syarat sholawat kepada Nabi Saw adalah semua syarat yang terdapat pada tasyahud akhir. Sholawat yang paling sederhana adalah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ

“Allohumma sholli ‘alaa Muhammad”

Artinya: “Ya Alloh, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad”

Sementara batas maksimal sholawat kepada Nabi Muhammad Saw adalah dengan bacaan dibawah ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الاُمِيِّ وَعَلَى آلِهِ وَاَزْوَجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ

كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ

وبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ ،فِى العَلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin ‘abdika wa Rosuulikan Nabiyyil Ummiyyi wa ‘alaa aaliihi wa azwaajihi wadzurriyyatihii.

kamaa shollaita ‘alaa sayyidinaa Ibrohiim, wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibroohiim.

wabaarik ‘alaa sayyidina Muhammadin ‘abdika wa Rosuulikan Nabiyyil Ummiyyi wa ‘alaa aalihii wa azwaajihi wadzurriyyatihi.

kama baarokta ‘alaa sayyidina Ibroohim wa ‘alaa sayyidina Ibroohim, fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid”

Artinya:

“Ya Alloh, limpahkanlah rahmat kepada nabi Muhammad, hambaMu, utusanMu yang menjadi Nabi dan Ummiy. Dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya, istri-istrinya, serta para keturunannya.

Sebagaimana Engkau berikan sholawat Kepada penghulu kami Ibrahim dan keluarganya.

Dan berkahilah penghulu kami Nabi Muhammad, hambaMu, hambaMu, dan utusanMu yang Ummi, serta kepada keluarganya, istri-istrinya, juga para keturunannya.

Sebagaimana Engkau berikan keberkahan kepada penghulu kami Nabi Ibrahim, serta keluarganya. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia”.

11. Salam

Salam dalam Sholat

Mengucapkan salam yang diwajibkan dan termasuk rukun bacaan sholat adalah salam yang pertama saja. Sementara salam yang kedua dihukumi sunnah. Pelaksanaan salam dengan menoleh kea rah kanan sebagai salam pertama, dan menoleh kearah kiri sebagai salam yang kedua.

Minimal bacaan salam adalah:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ

“Assalaamu ‘alaikum”

Artinya: “semoga keselamatan tetap tercurah untukmu sekalian”

Maksimal bacaan salam adalah:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

“Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloh”

Artinya: “Semoga keselamatan dan rahmat Alloh tetap tercurah padamu sekalian”

Reverensi:

  • kitab Fathul Mu’in, fasl tentang sholat, Karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannaniy.
  • Kitab Fathul qorib, fasl kitab hukum-hukum sholat, Karya Syeikh Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim Al-Ghozi.
  • kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.
  • kitab Tausyikh ‘alaa ibni qosim, karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi (Banten).

Tinggalkan komentar