Apakah Makan Membatalkan Wudhu?

Apakah makan membatalkan wudhu? – Waktu sholat isya’ telah tiba, sebagai muslim yang baik tentu hati kita akan tergerak untuk segera mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat. Namun setelah wudhu dikerjakan sesuai dengan tata cara wudhu yang benar, tiba-tiba ibu memanggil untuk makan malam bersama.

Bagaimana ini? Kalau tetep lanjut sholat isya’ diawal waktu, pasti ketinggalan momen makan malam bersama. Kalau ikut makan bareng, tentu tidak bisa sholat isya’ diawal waktu. Akhirnya, makan malam aja deh, sayang momen bareng keluarga jika ditinggal.

Eh, setelah makan lanjut mau sholat dong. Tapi keraguan datang menghalang, setelah tadi wudhu dengan sempurna lanjut makan, aku harus mengulang wudhu lagi nggak ya? Karena makan tadi wudhu saya batal nggak ya?

Teman-teman ada yang pernah mengalami hal serupa? Yuk kita simak artikel berikut. Kita akan membahas kasus diatas dan kasus-kasus lain yang sering membingungkan.

Apakah makan membatalkan wudhu?

Apakah Makan Membatalkan Wudhu_

Makan adalah aktifitas memasukkan makanan kedalam mulut dan diteruskan dalam perut. Makan dapat berdampak membatalkan pada puasa, karena saat puasa harus menahan diri untuk memasukkan sesuatu kedalam perut melalui lubang tubuh manapun.

Dari ulasan diatas, jadi jawabnya adalah makan tidak membatalkan wudhu. Boleh saja kita makan setelah wudhu, kemudian langsung sholat tanpa mengulang wudhu dari awal. Akan tetapi kita disunnahkan untuk mengerjakan wudhu kembali sebelum sholat.

BACA ARTIKEL TERKAIT: Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Apakah mimpi basah membatalkan wudhu?

Mimpi basah adalah hadats besar yang hanya mewajibkan mandi, bukan wudhu. Untuk lebih tepatnya, yang membatalkan wudhu bukan mimpi basahnya, tapi tidurnya. Tapi harus digaris bawahi bahwa tidur yang sampai membatalkan wudhu adalah tidur dengan posisi yang memungkinkan keluarnya kentut.

Sementara tidur yang tidak sampai membatalkan wudhu adalah tidur dengan posisi menetapkan pantat pada lantai. Sehingga dengan posisi tersebut tidak memungkinkan keluarnya kentut. Maka dari itu wudhunya aman dan tidak dihukumi batal.

Sudah jelas ya, dengan ulasan diatas dapat kita simpulkan bahwa mimpi basah tidak membatalkan wudhu, tetapi mewajibkan sesuatu yang lebih besar, yaitu mandi jinabat.

Apakah mabuk kendaraan membatalkan wudhu?

Butuh perincian untuk menjawab pertanyaan ini. Yang membatalkan wudhu adalah hilangnya kesadaran disebabkan faktor apapun. Maka, bisa ditarik kesimpulan jika mabuk kendaraan sampai tidak sadar diri, baik mengigau atau bahkan pingsan, batal wudhunya.

Sebaliknya, jika mabuk kendaraan tapi masih bisa mengendalikan kesadaran walaupun lemas tak berdaya, wudhunya tidak batal.

Apakah menyentuh istri membatalkan wudhu?

Jawabnya adalah membatalkan wudhu, karena istri adalah muhrim yang tidak bersifat abadi. Istri bisa saja sewaktu-waktu ditalak atau diceraikan, maka dari  itu disebut muhrim yang tidak abadi.

Lalu siapa saja muhrim abadi kita? Yang tidak membatalkan wudhu seandainya tidak sengaja bersentuhan kulit. Mereka adalah orang tua kita sampai garis nasab keatas, lalu saudara kandung kita, juga kedua mertua kita.

Sebenarnya ada satu lagi muhrim yang bersifat abadi, yaitu saudara satu susuan. Tapi pada zaman sekarang sangat jarang orang tua yang menyusukan anaknya kepada perempuan lain. Maka dari itu untuk yang satu ini tidak saya bahas mendalam.

Ketahuilah Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu

  1. sesuatu yang keluar dari dua jalan, yaitu jalan depan dan belakang, kentut atau yang lain, biasa keluar atau tidak, basah atapun kering, kecuali sperma.
  2. hilangnya akal sebab tidur atau yang lainnya,kecuali tidurnya orang duduk yang menetapkan pantatnya pada lantai dan sejenisnya.
  3. bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan dewasa dan bukan mahram tanpa ada penghalang.
  4. menyentuh kelamin atau lingkaran dubur anak Adam dengan telapak tangan atau bagian dalam jari tangan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang hal-hal yang membingungkan dalam wudhu, terutama apakah makan membatalkan wudhu? semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian.

Referensi:

  • kitab Fathul Mu’in, fasl tentang sholat, Karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fannaniy.
  • Kitab Fathul qorib, fasl kitab at-thoharoh, Karya Syeikh Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim Al-Ghozi.
  • kitab At-Takrirat Al-Sadidah Fi Al-Masail Al-Mufidah, bab wudhu, Karya syaikh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff.
  • kitab Tausyikh ‘alaa ibni qosim, kitab at-thoharoh, karya Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi (Banten).
  • Kitab I’anatuth tholibin, juz 1, karya Syeikh Abi Bakar bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyati, cetakan haramain / maktabah futuhiyyah.

BACA JUGA:

Tinggalkan komentar